My friend

My friend
Taruna Utama (Lapangan belakang gedung utama) Lembar 2008

Rabu, 26 Januari 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PAYAU

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNLOGI BUDIDAYA AIR PAYAU
PEMBESARAN DAN PEMBENIHAN BANDENG ( Chanos chanos)
DI BALAI BESAR RISET PERIKANAN BUDIDAYA LAUT GONDOL - BALI

Oleh:
PUJI NUR PARIDI
CIK 008 063

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2010




BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Gondol – Bali, merupakan balai penelitian dalam kegiatan budidaya laut yang beroperasi di bawah badan penelitian dan pengembangan perikanan budidaya kementerian kelautan dan perikanan yang berdiri pada tahun 1985 yang hanya melakukan satu kegiatan saja yaitu pembenihan bandeng. Hal ini di karenakan, pada perairan Gondol dan perairan di sekitarnya merupakan lokasi penangkapan ikan bandeng. Dikarenakan banyaknya para peminat dari ikan bandeng ini maka sangat di khawatirkan nantinya terjadi penangkapan yang destriktif dan intensif sehingga ikan bandeng mengalami over fishing yang akhirnya akan terjadi kepunahan dari ikan bandeng itu sendiri.
Walaupun sebagian masyarakat gondol dan sekitarnya banyak yang melakukan budidaya bandeng, namun pada kenyataannya budidaya yang dilakukan belum sepenuhnya berhasil karena masih dan sering ditemukannya berbagai kendala dan permasalahan yaitu terutama dalam jumlah produksi dan kualitas binih yang masih kurang baik. Selain itu, permasalahan yang sering ataupun dominan dijumpai dalam usaha budidaya laut seperti masih rendahnya tingkat kelangsungan hidup larva dari hatchery, kurangnya tindakan pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi, penyediaan induk dan pakan yang masih kurang, jumlah produksi dan kualitas benih yang masih rendah, manajemen pengelolaan kualitas air yang masih kurang, dan lain sebagainya yang dapat menghambat atau permasalahan dalam budidaya. Oleh sebab itu dilakukannya penelitian dalam hal kegiatan pembenihan dan pembesaran ikan bandeng, dengan harapan hasilnya nanti dapat mengatasi permasalahan tersebut dan selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan dalam membudidayakan ikan bandeng ( Chanos chanos).
Usaha pembenihan bandeng di hatchery dapat mengarahkan kegiatan budidaya menjadi kegiatan yang mapan dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi alam serta tidak memanfaatkan sumber daya secara berlebihan. Dalam siklusnya yang utuh, kegiatan budidaya bandeng yang mengandalkan benih hatchery bahkan dapat mendukung kegiatan pelestarian sumberdaya baik melalui penurunan terhadap penyian-nyian sumber daya benih species lain yang biasa terjadi pada penangkapan nener di alam maupun melalui penebaran di perairan pantai (restocking) (Anonym,2010).
Dengan demikian sebagai mahasiswa budidaya perairan sangat penting untuk melakukan peninjauan untuk menambah wawasan dan teknik yang dilakukan dalam budidaya bandeng baik skala besar ataupun skala rakyat yang selanjutnya teknologi dan informasinya dapat di adopsi oleh masyarakat.

1.2. Tujuan praktikum
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum Teknologi Budidaya Air Payau ini adalah sebagai berikut :
a. Diharapkan mahasiswa dapat menilai suatu lokasi yang layak untuk dijadikan lokasi pembenihan ikan bandeng sekala besar atau rumah tangga.
b. Diharapkan mahasiswa dapat membuat lay out usaha pembenihan sekala besar dan kecil, serta mengetahui bentuk wadah dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan pembenihan.
c. Dapat mengetahui teknik persiapan bak dan peralatan penunjang yang di gunakan dalam kegiatan pembenihan.
d. Dapat mengetahui teknik seleksi induk, pemeliharaan induk dan perangsangan kematangan gonad induk ikan bandeng.
e. Dapat mengetahui teknik pemijahan, teknik pemanenan telur, dan penetasan telur ikan bandeng.
f. Dapat mengetahui jenis dan teknik kultur makanan alami pada pembenihan udang dan bandeng.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Benih bandeng (nener) merupakan salah satu sarana produksi yang utama dalam usaha budidaya bandeng di tambak. Perkembangan teknologi budidaya bandeng di tambak dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha budidaya udang. Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala dalam menigkatkan teknologi budidaya bandeng. Selama ini produksi nener alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting.Tanpa mengabaikan arti penting dalam pelestarian alam, pengembangan wilayah, penyediaian dukungan terhadap pembangunan perikanan khususnya dan pembangunan nasional umumnya, kegiatan pembenihan bandeng di hatchery harus diarahkan untuk tidak menjadi penyaing bagi kegiatan penangkapan nener di alam. Diharapkan produksi benih nener di hatchery diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat dan pasok penangkapan di alam yang diduga akan menurun (Anonym,2010).
Ikan bandeng termasuk jenis ikan eurihalin. Oleh karena itu ikan bandeng dapat hidup di daerah air tawar, air payau, dan air laut. Induk bandeng baru bisa memijah setelah mencapai umur 5 tahun dengan ukuran panjang 0,5-1,5 m dan berat badan 3-12 kg. Jumlah telur yang di keluarkan induk bandeng berkisar 0,5-1,1 juta butir tiap kg berat badan. Pertumbuhan ikan bandeng relatif cepat yaitu 1,1-1,7 % bobot badan perhari. Pada tahap pendederan ikan bandeng, penambahan bobot per hari berkisar 40-50 mg. Ikan bandeng dengan bobot awal 1-2 g membutuhkan waktu 2 bulan untuk mencapai bobot 40 g. Adapun kenunggulan komoditas bandeng dibandingkan dengan komoditas lainnya adalah : a) induknya memiliki fekunditas yang tinggi dan teknik pembenihannya telah dikuasai sehingga pasok nener tidak tergantung dari alam; b)teknologi budidayanya relative mudah; c)pakan relative murah dan tersedia secara komersial; d)tidak bersifat kanibal sehingga dapat hidup dalam kepadatan tinggi; e)dapat dibudidayakan secara polikultur dengan komoditas lainnya; f)bersifat eurihalin dan bersifat hebivora serta tanggap terhadap pakan buatan (Sudrajat, 2008).
Benih bandeng (nener) merupakan salah satu sarana produksi yang utama dalam usaha budidaya bandeng di tambak. Perkembangan Teknologi budidaya bandeng di tambak dirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha budidaya udang. Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala dalam menigkatkan teknologi budidaya bandeng. Selama ini produksi nener alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting. Tanpa mengabaikan arti penting dalam pelestarian alam, pengembangan wilayah, penyediian dukungan terhadap pembangunan perikanan khususnya dan pembangunan nasional umumnya, kegiatan pembenihan bandeng di hatchery harus diarahkan untuk tidak menjadi penyaing bagi kegiatan penangkapan nener di alam. Diharapkan produksi benih nener di hatchery diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat dan pasok penangkapan di alam yang diduga akan menurun (Anonym, 2010).
Teknologi produksi benih di hatchery telah tersedia dan dapat diterapkan baik dalam suatu Hatchery Lengkap (HL) maupun Hatchery Sepenggal (HS) seperti Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT). Produksi nener di hatchery sepenggal dapat diandalkan. Karena resiko kecil, biaya rendah dan hasil memadai. Hatchery sepenggal sangat cocok dikembangkan di daerah miskin sebagai salah satu upaya penanggulangan kemiskinan bila dikaitkan dalam pola bapak angkat dengan hatchery lengkap (HL). Dilain pihak, hatchery lengkap (HL) dapat diandalkan sebagai produsen benih bandeng (nener) yang bermutu serta tepat musim, jumlah dan harga (Murtidjo,1989).
Usaha pembenihan ikan bandeng diarahkan untuk menghasilkan benih ukuran 1,5 cm, yang dikenal sebagai nener. Selama ini pembenihan umumnya dilakukan atas kerjasama antara Lembaga Pemerintah, seperti Balai Penelitian Budidaya Pantai dan Balai Budidaya Air Payau, dengan masyarakat. Mengingat kegiatan ini membutuhkan investasi dan biaya operasional yang besar dan tenaga trampil, terutama pada kegitan pemeliharaan induk hingga menghasilkan terlur/larva. Lembaga pemerintah menghasilkan telur atau larva, kemudian masyarakat menetaskan dan memeliharanya hingga menjadi nener (Taufik,1998).
Pembenihan diawali dengan penyediaan induk yang biasanya didapat dengan menangkapnya dari laut. Ikan bandeng termasuk jenis ikan yang heteroseksual. Namun demikian masih sulit untuk membedakan antara bandeng jantan dan betina. Ikan bandeng betina matang kelamin terlihat adanya tiga buah lubang pada daerah dubur, yaitu berturut-turut dari bagian depan adalah lubang pembuangan kotoran (dubur), lubang pengeluaran telur (genital pore) dan lubang pembuangan air seni (urinary pore). Sedangkan pada ikan bandeng jantan matang kelamin terlihat dua buah lubang saja yaitu yang depan lubang pembuangan kotoran dan yang belakang lubang pengeluaran air seni dan sperma (urogenital pore) (Anonym, 2010).



BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol- Bali, pada hari selasa tanggal 14 desember 2010.

3.2. Alat dan Bahan Praktikum
Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam kegiatan praktikum ini adalah alat tulis menulis berupa pulpent dan buku serta kamera digital untuk pengmbilan gambar.

3.3. Prosedur Kerja
Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan metode survey langsung dilokasi budidaya pembesaran dan pembenihan bandeng. Data primer di peroleh melalui pengamatan (observasi) langsung dilapangan dan melakukan wawancara secara mendalam (debt interview ) dengan pegawai atau teknisi mengenai budidaya ikan bandeng khususnya unit pembesaran skala besar dan unit pembenihan skala rakyat.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan
4.1.1. Kelayakan lokasi
Pambenihan sekala besar di lakukan oleh Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol-Bali (BBRPBL). Sedangkan untuk pembenihan sekala kecil dilasanakan oleh warga di sekitar BBRPBL. Untuk pemasokan air laut sekala besar dan kecil dilakukan dengan cara disedot mengunakan pompa dari laut di sebelah timur tanjung BBRPBL. Sedangkan untuk suplai air tawar di dapatkan dari PDAM. Untuk fasilitas penunjang lain sangat memadai karena lokasi telah terjangkau aliran listrik dan dekat dengan jalan raya. Untuk legalitas usaha terutama pembenihan sekala kecil tidak didapatkan karena biasanya usaha sekala kecil telah di rekomendasikan oleh BBRPBL kepada calom pembeli.

4.1.2. Kontruksi wadah dan peralatan penunjang
Wadah pembenihan sekala kecil berukuran panjang 4 m, lebar 2,5 dan tinggi 1 m. Bak phytoplankton berukuran panjang 8 m, lebar 4 m, dan tinggi 1,5 m. ukuran bak rotifera sama dengan bah phytoplankton. Bak tandon berukuran lebih besar dan berdekatan dengan bak rotifera. Untuk bak pemeliharaan induk sekala besar bak berukuran panjang 10 m, lebar 10 m, dan tinggi 2 m. Setiap bak terbuat dari bahan beton bertulang kecuali untuk bak sekala kecik bak tidak bertulang. Untuk suplai air laud di dapatkan dengan cara menyedot dari laut dengan pompa air dan di tampung di dalam bak tendon. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada gambar di bawah.

Gambar. Wadah pembenihan ikan bandeng sekala rumah tangga.

Gambar. Sketsa wadah pembenihan ikan bandeng sekala rumah tangga.

Gambar. Sketsa wadah pemeliharaan induk ikan bandeng

Gambar. Bak pemeliharaan induk ikan bandeng

4.1.3. Persiapan peralatan
Adapun hasil yang diperoleh untuk persiapan wadah tidak ada yang khusus. Perlakuan yang dilakkan antara lain pengurasan bak, pembersihan dari biota penempel, dan pengeringan. Hal ini di lakukan baik dalam sekala besar ataupun kecil.

4.1.4. Persiapan dan pemeliharaan induk
Ukuran induk berkisar antara 5-6 kg, umumnya induk janta lebih besar dari induk jantan. Induk berasal dari alam karena mempunyai daya adaptasi dan toleransi yang tinggi terhadap lingkungan. Untuk meransang kematangan gonad dilakukan dengan cara menambahkan Vit E ke dalam pakan. Teknik pemberian pakan yaitu diberikan setiap pagi dan sore hari dengan komposisi pemberian pakan 5 % dari berat tubuh ikan bandeng. Pengelolaan air hanya melalui peruses pengendapan partikel padat di bak tandon dan penyaringan melalui kain saring.

4.1.5. Pemijahan, pemanenan telur, dan penetasan
Bak pemijahan induk tidak berbeda jauh dengan bak pemeliharaan induk, bahkan bias di lakukan dalam bak yang sama. Untuk bak pemijahan diusahakan bak dalam suasana tenang dan gelap. Induk ikan banding memijah 5 hari sesudah ataupun sebelum bulan terang atau gelap. Induk yang siap memijah biasanya terlihat saling berkejaran antara induk betina dan janta, gerakan lebih agresif, dan respon terhadap pakan berkurang.
Untuk pemanenan telur dilakukan dilakukan dengan cara menmbuka saluran outlet dan di ujung pipa outlet telah tersedia saringan telur dengan berbagai ukuran. Ataupun bias juga dilakukan dengan cara telur di sifon dan di ujung selang sopon juga terdapat saringan. Telur yang baik akan terlihat melayang daan bening, sedangkan untuk telur tang jelek telihan mengendap dan berwarna putih keruh. Untuk memudahkan seleksi telur dapat juga dilakukan dengan menambahkan NaCl untuk menambah daya apung telur yang bagus.

4.1.6. Pemeliharaan Larva, benih, dan pemanenan
Larva ikan di pelihara dalam wadah terkontrol dengan kepadatan 1 individi/cc air. Pakan di berikan setelah kuning telur habis, pakan pertama di berikan berupa pakan non klorofis, rotifera di berikan setelah larva berumur 2 hari dengan kepadatan pakan 5 individu/cc. diusahakan benih tidak kekurangan makanan saat budidaya karena dapat menyebabkan kematian pada benih. Pemanenan dapat di lakukan maksimal setelah benih berumur 25 hari.

4.2. Pembahasan
4.2.1. Pemeliharaan induk
Pemeliharaan induk ikan banding di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBRPBL) Gondol-Bali mengunakan bak yang terbuat dari bahan beton dengan ukuran maksimal dapat menampung 30 ton air. Terdapat saluran inlet pada sisi bak dan saluran outlet terdapat pada bagian tengah bak. Batu aerasi tersebar di beberapa titik dengan daya yang kuat untuk membatu mensuplai oksigen terlarut ke dalam bak pemeliharaan. Sesuai pernyataan di atas, menurut Gufron ( 2007) menyatakan bahwa bak untuk pemeliharaan induk terkontrol sebaiknya dibuat semen atau fiberglass dengan saluran air yng masuk dari sisi yang satu, dan saluran pembuangan di tengah dasar bak pada sisi yang berlawanan. Bak juga di lengkapi dengan atap yang terbuat dari bahan polietilen untuk menjaga agar bak pemeliharaan tidak terlalu cerah atau terjaga dalam keadaan remang-remang. Selain atap suplai air kebak dialiri secara continyu selama 25 jam dan pembersihan bak dilakukan 1-2 minggu sekali tergantung dari keadaan kotoran dalam bak pemeliharaan.
Induk bandeng di BBRPBL Gondol-Bali berasal dari alam, induk yang terdapat dalam kolam pemeliharaan ukurannya telah di seragamkan, tujuannya agar persaingan makanan tidak terjadi antar ikan yang lebih besar dan ikan yang lebih kecil. Induk yang di pelihara telah berumur 5-6 tahun dengan berat 5-6 kg. Induk dengan ukuran 5-6 kg sudah bias di pijahkan. Ciri-ciri induk yang berkualitas untuk betina yaitu sudah berumur 4 tahun, perutnya membesar dan lembek, sedangkan untuk induk jantan yaitu berumur 3 tahun, gerakan induk jantanlebih lincah dan tubuh tetap ramping. Untuk menjaga kualitas induk yang berukuran lebih dari 5 kg harus mempunyai sisik yang cerah, bersih dan tidak terkelupas serta mampu berenang cepat.
Untuk Seleksi induk yang matang gonad dapat dilakukan dengan cara stripping dan teknik kanulasi. Untuk mengetahui kematangan gonad induk banding jantan, sperma dapat di peroleh dengan cara melakukan stripping (mengurut bagian perut), sedangkan untuk mengetahui kematangan gonad induk bandeng betina telur dapat di peroleh dengan teknik kanulasi yaitu menggunakan selang plastic dengan diameter 0,8 – 2 mm. Teknik yang digunakan untuk membedakan antara induk jantan dan induk betina dilakukan dengan metode kateter dan stripping, yaitu induk betina pada duburnya terdapat 3 lubang sedangkan jantan terdapat 2 lubang pada duburnya.
Pemijahan induk banding di BBRPBL Gondol-Bali dilakukan dengan cara manipulasi lingkunga, baik dengan cara kejut suhu maupun menaik turunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan. Kriteria induk yang siap untuk dipijahkan antara laian yaitu untuk induk betina mempunyai diameter telur 750 um, sedangkan untuk induk jantan mengandung sperma tingkat III yaitu pada saat stripping sperma cukup banyak. Dengan ciri-ciri bewarna putih susu dan kental. Jumlah telur yang dihasilkan tergantung dari ukuran induknya. Semakin besar induk maka semakin besar juga jumlah telur yang dihasilkan. Telur yang sudah dibuahi akan berwarna transparan dan mengapung, sedangkan telur yang kurang baik menendap didasar bak dan berwarna putih keruh. Untuk menjaga kualitas telur, telur yang diperoleh diinkubasi dan diberi aerasi yang cukup sampai pada tingkat embrio. Setelah telur dipanen dilakukan desinfeksi menggunakan larutan formalin selama 10 -15 menit untuk mencegah serangan pathogen.
Pada saat masih berukuran larva atau benih pakan utama yang di berikan pada ikan bandeng terdiri dari organisme plankton, benthos dan detritus. Sedangkan untuk induk pakan yang di berikan berupa pakan buatan ( pellet ) yang biasanya di campur dengan Vit E untuk merangsang kematangan gonad dan diselingi oleh ikan rucah. Umumnya pakan diberikan sebayak 10-30% dari total bobot ikan per hari. Waktu pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari. Pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit agar pakan tidak banyak terbuang (Sudrajat, 2008). Pakan yang diberikan pada pemeliharaan induk adalah pakan mengapung.

4.2.2. Pembenihan Bandeng Skala Rakyat
Untuk pembenihan banding skala rakyat terletak di sebelah timur BBRPBL Gondol-Bali. Pembenihan ini pada awalnya menggunakan ssitem tertutup. System tertutup pemanenannya dilakukakan dalam waktu 24 hari. Namun, sekarang pembenihan di sekala masyarakat dilakukan dengan system terbuka karena waktu pemanenannya lebih singkat bisa mencapai 16 hari. Hal ini menurut para petani ikan dikarenakan pada system terbuka suhu yang masuk cukup dan optimum untuk proses metabolisme sehingga pertumbuhannya akan semakin cepat. Dalam system sekala rakyat ini juga dilakukan kultur pakan alami untuk pakan larva ikan bandeng. Pakan alami tersebut berupa fitoplankton (Nannochloropsis sp.) dan jeis zooplankton berupa rotifer ( Branchionus plicatilis ). Kultur pakan alami ini dilakukan secara terpisah untuk menghindari terjadinya kontaminasi. Pakan alami seharusnya di berikan saat larva sudah berumur 4-5 hari menurut peneliti di BBRPBL Gondol-Bali, namun di masyarakat pakan sudah di berikan saat larva berumur 2-3 hari.
Pada bak pemeliharaan larva di lengkapi dengan aerasi dan saluran outlet. System pemeliharaan larva tidak menggunakan system air mengalir seperti di bak pemeliharaan induk dikarenakan akan membuang pakan alami yang diberikan. Pembersihan bak ataupun pergantian air dilakukan dengan cara menyipon bak pembenihan dan di ujung selang sipon di beri kain penyaring untuk menyaring larva ikan yang ikut tersedot. Pemberian pakan alami dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari dengan kepadatan pakan 5 cel/cc. semakin besar ukuran larva ikan sebaiknya kepadatan pakan yang diberikan lebih banyak, jangan sampai larva ikan kekurangan makanan karena dapat mengakibatkan kematian pada larva ikan banding.
Penyakit yang menyerang larva ikan banding di kalangan rakyat biasanya adalal penyakit bintangan, yang di tandai dengan timbulnya cahaya-cahaya seperti bintang pada larva yang terkena penyakit. Penyakit ini di sebabkan oleh kontaminasi dari rotifera yang tidak terkontrol dengan baik. Untuk menangulanginya dapat dilakukan dengan melakukan tindakan pencegahan, yaitu dengan menjaga kualitas pakan buatan agar tidak terkontaminasi.
perkembangan hatchery bandeng di kawasan pantai dapat dijadikan titik tumbuh kegiatan ekonomi dalam rangka pengembangan wilayah dan penyerapan tenaga kerja yang mengarah pada pembangunan berwawasan lingkungan. Pada giliranya, tenaga yang terserap dihatchery itu sendiri selain berlaku sebagai produsen juga berlaku sebagai kondumen bagi kebutuhan kegiatan sehari-hari yang dapat mendorong kegiatan ekonomi masyarakat sekitar hatchery (Anonym, 2010).



BAB V
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pembahasan praktikum Teknologi Budidaya Air Payai ini adalah sebagai berikut :
1. Pemeliharaan bandeng baik pembenihan ataupun pembesaran menggunakan sisitem tertutup.
2. Pada pemeliharaan induk ikan bandeng system rirkulasi air dijalankan selama 24 jam. Sedangkan pada bak pemeliharaan larva air tidal dialiri 24 jam.
3. Pada pemeliharaan induk pakan yang diberikan berupa pellet + Vit E dan ikan rucah.
4. Pada pemeliharaan larva pakan berupa pakan alami.
5. Pemijahan induk dilakukan dengan system manipulasi lingkungan.



DAFTAR PUSTAKA

Anonym, 2009. http://binaukm.com/2010/04/peluang-usaha-budidaya-ikan-bandeng-bag-5/. Akses 26 Desember 2010.

Anonym,2010. http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-bandeng.html. Akses 26 Desember 2010.

Murtidjo, 1989. Tabak Air Payau. Kansius. Yogyakarta.

Sudrajat, 2008. Budidaya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Taufik, 1998. Budidaya Bandeng Secara Intensif. Penebar Swadaya. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar